Cara Menanam Cabai Rawit di Pekarangan Rumah agar Berbuah Lebat

Cabai rawit (Capsicum annuum’ Bird’s Eye) adalah sayuran yang mempunyai nilai ekonomi cukup tinggi. Selain dikonsumsi dalam keadaan segar, cabai ini juga bisa diolah terlebih dahulu menjadi bubuk cabai, saus cabai, serta tepung cabai. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tanaman cabai rawit bisa dibudidayakan di pekarangan dengan menggunakan pot atau polybag. Secara prinsip, tanaman cabai bisa tumbuh dengan optimal di daerah yang terletak di dataran rendah sampai dataran tinggi dengan ketinggian 0-1000 m di atas permukaan laut.

Tanaman cabai dapat dibudidayakan di tanah yang memiliki struktur remah, gembur, subur, kaya akan bahan organik dan mempunyai pH yang berkisar antara 6-7. Di bawah ini merupakan teknis budidaya cabai rawit yang bisa Anda pelajari dengan baik.

PENYEMAIAN BENIH

Penyemaian dilaksanakan memakai wadah berupa pot, polybag, atau nampan. Media yang dipakai terdiri atas tanah lapisan atas dan pupuk kandang yang dicampur rata dengan komposisi 1:1. Sebelum disemai, benih cabai rawit harus direndam terlebih dahulu di air hangat dalam waktu 1 jam. Setelah itu, benih-benih ditaburkan ke media penyemaian secara merata kemudian ditutup menggunakan lapisan tipis tanah halus. Tinggal menunggu hari, biji cabai tersebut pasti akan tumbuh menjadi kecambah.

Selama masa penyemaian, benih cabai rawit perlu dipelihara dengan menyiramnya setiap dua kali per hari. Lakukan juga pengendalian terhadap hama dan penyakit yang menyerang bibit cabai rawit dengan metode sesuai gejala yang muncul di lapangan. Bibit cabai rawit siap dipindahkan ke media penanaman setelah berusia 3-4 minggu, memiliki 4-6 helai daun, dan tingginya mencapai 5-10 cm. Anda harus hati-hati saat melakukan proses pemindahan bibit cabai rawit dari tempat penyemaian ke lahan utama.

PERSIAPAN PENANAMAN

Untuk menanam bibit cabai rawit di lahan pekarangan yang sempit, wadah penanaman yang digunakan berupa pot atau polybag yang berukuran 30 x 30 cm atau 40 x 40 cm. Selanjutnya pot/polybag tadi Anda berikan lubang sebanyak 4-5 buah di bagian bawah pada sisi kanan dan sisi kiri sebagai jalur keluarnya air agar tak terlalu menggenangi media tanam. Jangan pernah menanam cabai rawit di pot tanpa lubang ya. Sebab tanaman ini sangat sensitif terhadap genangan air di media tanam.

Anda dapat menggunakan media tanam dari campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:1, 1:2, atau 1:3 tergantung tingkat kesuburan dan tekstur tanah yang dipakai. Anda juga bisa menambahkan sekam bakar secukupnya untuk membuat kondisi media tanam tersebut semakin porous atau remah. Campuran media tanam yang sudah jadi selanjutnya dimasukkan ke dalam wadah penanaman hingga cukup penuh sampai ketinggiaannya mencapai 2-3 cm dari bibir wadah tersebut.

PENANAMAN BIBIT

Penanaman bibit cabai rawit diawali dengan menyiram media tanam pada pot/polybag terlebih dahulu. Kemudian buat lah lubang tanam dengan ukuran sesuai dengan wadah penyemaian. Setiap pot/polybag dapat ditanami bibit cabai rawit sebanyak 1 bibit sehingga tingkat pertumbuhannya lebih optimal. Wadah penanaman ini lantas diletakkan pada rak bertingkat sehingga kapasitas pekarangan menjadi lebih banyak. Ini merupakan teknik vertical garden yang dapat memaksimalkan penggunaan lahan meski ukurannya terbilang cukup terbatas. Anda membutuhkan rak khusus di sini.

PERAWATAN TANAMAN

Perawatan tanaman cabai rawit meliputi pemupukan, penyiraman, penyulaman, pemasangan ajir, perempelan, dan pengendalian OPT. Pemupukan susulan dikerjakan ketika tanaman cabai rawit berumur 30 hari setelah tanam menggunakan 10 gram TSP dan 7 gram KCI per tanaman. Kemudian pada umur 45 HST dilaksanakan pemupukan ulang tahap kedua memakai 7 gram Urea. Dan pada usia 65 HST, sekali lagi dilaksanakan pemupukan susulan dengan NPK (15:15:15) sebanyak 10 gram per tanaman. Berikan pupuk sesuai dengan dosis dan jadwal yang telah ditentukan.

Pola penyiraman harus disesuaikan dengan keadaan lahan pekarangan dengan volume siram hingga kapasitas lapangan. Penyulaman dilakukan sampai hari ketujuh dengan cara mengganti bibit cabai rawit yang mati atau tidak normal dengan bibit baru. Sedangkan pada hari ke-30 setelah bibit dipindahkan ke wadah penanaman, bibit ini perlu dilengkapi ajir sepanjang 125 cm sebagai penyangga tanaman agar tidak gampang roboh. Dengan disangga ajir, pohon cabai rawit tetap mampu berdiri meskipun ada angin kencang ataupun hujan yang deras.

Pembuangan/perempelan tunas samping yang ada di bawah cabang primer juga perlu dilakukan sebanyak 2-3 kali dimulai ketika tanaman cabai rawit berumur 7-20 hari. Sementara itu, tanaman-tanaman yang terserang hama dan penyakit harus ditangani dengan metode yang tepat. Pengendaliannya bisa dengan memanfaatkan fungisida dan insektisida nabati atau melalui teknik mekanik dengan cara mencabut dan membakar. Kerjakan dengan baik seluruh prosedur perawatan tanaman cabai rawit ini agar buahnya lebat.

PEMANENAN BUAH

Pemanenan buah cabai rawit biasanya dilakukan pada saat tanaman berusia 70-75 hari setelah tanam. Buah cabai rawit yang dapat dipanen sudah berukuran cukup besar dan berwarna hijau atau merah sesuai permintaan pasar. Dalam setiap minggu, buah yang dihasilkan oleh tanaman cabai rawit ini bisa dipetik sebanyak 1-2 kali. Pemetikan cabai rawit dilakukan secara manual menggunakan tangan. Petiklah buah cabai rawit tersebut beserta tangkai buahnya supaya kesegarannya mampu bertahan lebih lama. Lalu cabai rawit yang telah dipanen tersebut bisa segera didistribusikan ke konsumen.