Pedoman Budidaya Tanaman Pare yang Benar Supaya Buahnya Lebat

Kendati mempunyai cita rasa yang pahit, namun kenyataannya cukup banyak orang yang menyukai buah pare. Tanaman pare (Momordica charantia L.) dikenal pula dengan sebutan paria. Bagian yang dimanfaat adalah buahnya yang masih muda, berbentuk lonjong, berwarna hijau muda, dan bagian permukaan kulit yang berbintil-bintil. Tanaman pare ini tumbuh secara merambat, batangnya kecil dan panjang, serta cenderung lebih kuat daripada mentimun.

Tanaman pare memiliki daun yang berbentuk menjari. Bagian permukaan atas daunnya berwarna hijau tua dan bawahnya hijau muda atau hijau kekuningan. Beberapa jenis pare yang biasa ditanam oleh petani antara lain para ayam/hijau, pare gajih/mentega/putih, dan pare taiwan/impor. Selain dikonsumsi sebagai sayuran, pare juga berkhasiat untuk kesehatan seperti obat diabetes, gangguan pencernaan, penambah nafsu makan, obat cacing, demam, dan malaria.

Di dalam setiap 100 gram buah pare, terkandung nilai nutrisi sebagai berikut :

  • Energi: 29 kal
  • Protein: 1,1 g
  • Lemak: 0,3 g
  • Karbohidrat: 6,6 g
  • Serat: 1,5 g
  • Kalsium: 45 mg
  • Fosfor: 64 mg
  • Zat Besi: 1,4 mg
  • Vitamin A: 180 IU
  • Vitamin B1: 0,08 mg
  • Vitamin C: 52 mg
  • Air: 91,2 g.

SYARAT TUMBUH

Budidaya tanaman pare pada dasarnya dapat dikerjakan dengan cukup mudah karena tanaman ini bisa tumbuh di hampir semua jenis tanah sampai pada ketinggian 1.500 m dpl. Tanaman ini sendiri akan tumbuh optimal pada tanah yang memiliki pH 5-6, kaya akan kandungan humus, mempunyai tekstur yang gembur, dan memiliki sistem drainase yang baik. Sedangkan untuk penyinaran cahaya matahari, tanaman ini tak memerlukan terlalu banyak sinar sehingga dapat ditanam di tempat yang teduh.

PENANAMAN

Penanaman pare biasanya dilakukan menggunakan biji. Adapun untuk kebutuhan benihnya sekitar 70 gram per 100 m2. Sebelum biji pare ini ditanam sebaiknya dilakukan upaya penyeleksian biji lebih dahulu dengan memasukkannya ke dalam air. Tanamlah hanya biji pare yang tenggelam di air. Anda boleh langsung menanam biji tersebut di lahan ataupun melakukan penyemaian di polybag dahulu. Tapi biasanya para petani langsung menanam biji pare di lahan karena lebih praktis.

Sebelum penanaman benih dilakukan, lahan perlu disiapkan dengan baik terlebih dahulu. Mulailah dengan mencangkul tanah agar gembur. Kemudian Anda dapat membuat bedengan yang berukuran lebar 1,5 m, tinggi 25 cm, dan panjang menyesuaikan kondisi lahan. Jangan lupa untuk menebarkan pupuk kandang sebanyak 1 kuintal/100 m2 untuk meningkatkan kesuburannya. Lubang tanam dapat dibuat dengan ditugal sedalam 3-5 cm dengan jarak tanam 0,75 x 0,75 m.

Barulah kemudian dapat dilaksanakan proses penanaman benih pare ke dalam lubang tanam. Anda hanya perlu memasukkan 2-3 biji pare sekaligus ke dalam setiap lubang tanam, lalu tutuplah dengan lapisan tanah tipis. Lakukan pekerjaan ini sampai seluruh lahan berhasil ditanami biji pare. Kemudian lakukan penyiraman secara menyeluruh hingga kondisi lahan budidaya cukup lembap. Tujuannya tak lain untuk merangsang biji pare supaya cepat berkembang menjadi kecambah.

PEMELIHARAAN

Bentuk pemeliharaan yang paling dasar adalah penyiraman. Sebaiknya tanaman disiram setiap pagi dan sore hari. Jika curah hujan cukup tinggi, selokan harus diperhatikan agar tidak ada genangan air. Tanaman pare biasanya akan mulai tumbuh pada 2-3 hari setelah tanam. Kemudian setelah tanaman berusia 2 minggu ataupun tingginya mencapai 50 cm bisa dilakukan pemasangan ajir, lanjaran, atau para-para dari bambu setinggi 1,5-2 m. Fungsinya sebagai media rambatan sulur-sulur tanaman.

Setelah tanaman berumur 3 minggu dapat dilakukan pemangkasan cabang agar pertumbuhan tunas lebih menyebar sehingga tingkat produksi tanaman lebih banyak. Aturannya yaitu pilihlah 2 cabang  yang paling besar dan sehat untuk dipertahankan. Sedangkan cabang-cabang lainnya yang tumbuh di batang sampai ketinggian 1,5 m wajib dipangkas. Untuk pemangkasan kedua dapat dilakukan ketika tanaman pare berusia 6 minggu dengan memangkas cabang tua, berhenti tumbuh, rusak, sakit, serta daun-daun yang sudah tua.

Pupuk kimia perlu diberikan sebagai pupuk tambahan di samping pupuk organik. Anda bisa memberi pupuk NPK sebanyak 2-3 kg/100 m2. Atau boleh juga diganti dengan kombinasi urea, TSP, dan KCl dengan perbandingan 1:2:2 sebanyak 15 gram/tanaman (Urea 3 gram, TSP 6 gram, dan KCl 6 gram). Proses pemupukan ini dilakukan dengan menimbun pupuk tersebut di sekeliling tanaman sejauh 10 cm dari batangnya. Hendaknya pemupukan ini dikerjakan ketika tanaman berusia 1 bulan bersama dengan penyiangan.

PANEN & PASCA PANEN

Tanaman pare yang berusia 1,5-2 bulan akan mulai menumbuhkan bunga, di mana bunga betinanya akan berkembang menjadi buah. Bunga pare ini berwarna kuning dan memiliki tangkai yang panjang. Kemudian buah pare bisa dipanen sekitar 2,5 bulan setelah tanam. Sebaiknya buah pare ini dipanen saat kondisinya belum terlalu tua sehingga teksturnya masih keras dan rasanya pun tak terlalu pahit. Anda bisa memanen buah pare ketika buahnya sudah memiliki bintil-bintil, keriputnya masih cukup rapat, dan alurnya belum terlalu lebar.

Proses pemanenan buah pare dikerjakan dengan memotong tangkai buah menggunakan pisau atau gunting yang tajam dan steril. Jika dirawat dengan baik, tanaman pare ini akan menghasilkan sampai 30 buah/pohon dengan interval pemanenan setiap 5-7 hari sampai tanaman berusia 4 bulan. Buah pare yang telah dipanen selanjutnya dikumpulkan di dalam keranjang khusus dan diatur dengan rapi. Usahakan meminimalkan gesekan dan hati-hati saat mengangkutnya supaya kulit buah pare tidak rusak. Anda bisa menyimpan buah pare di ruangan bersuhu 10-20 oC agar lebih awet dan tidak cepat membusuk.