Metode Pelaksanaan Panen dan Pasca Panen Tanaman Jahe yang Baik

Setelah Anda menanam tanaman jahe kemudian merawatnya dengan baik, maka kini tibalah saatnya untuk memanen hasil dari jerih payah Anda tersebut. Waktu pemanenan jahe sebaiknya disesuaikan dengan penggunaan jahe itu sendiri. Jika jahe akan digunakan untuk bumbu masakan rumah tangga, Anda bisa memanen sebagian jahe tersebut saat masih berusia 4 bulan. Patahkan sebagian rimpang jahe tadi, lalu timbun lagi sebagian lainnya dan dibiarkan sampai berumur tua.

Sedangkan jahe yang akan dipasarkan secara massal atau masuk ke industri wajib dipanen di waktu umurnya sudah cukup tua yakni berkisar 10-12 bulan. Ciri-ciri tanaman jahe yang siap untuk dipanen yaitu daunnya berubah warna dari hijau menjadi kuning dan seluruh batangnya akan mengering satu per satu. Khusus untuk jenis jahe gajah biasanya tanaman ini akan mulai mengering di umur 8 bulan. Hal ini selanjutnya akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.

Proses pemanenan jahe mesti dilaksanakan dengan tepat supaya tidak merusak mutunya. Anda bisa memulainya dengan membongkar tanah bedengan terlebih dahulu dengan hati-hati menggunakan alat garpu kebun dan cangkul. Usahakan alat ini tidak sampai mengenai rimpang jahe sehingga tetap utuh dan tidak terluka. Mengapa harus demikian? Sebab selain akan mengurangi kualitasnya, luka ini juga bisa menyebabkan jahe yang dipanen menjadi lebih rentan membusuk.

Rimpang jahe yang sudah dipanen selanjutnya bisa dibersihkan dari tanah dan kotoran yang melekat di permukaannya. Di sini Anda boleh mencuci rimpang jahe tersebut menggunakan air yang mengalir sampai bersih. Barulah kemudian rimpang jahe bisa dikeringkan melalui penjemuran di bawah sinar matahari atau cukup mengangin-anginkannya saja tergantung cuaca. Gunakan alas dari daun pisang supaya bagian bawah rimpang jahe tidak terbakar atau rusak. Setelah kering, jahe ini dapat disimpan di tempat yang terbuka dan tidak lembap. Jahe sebaiknya tidak ditumpuk melainkan disebar.

Panen rimpang jahe sebaiknya dilaksanakan di akhir musim kemarau atau sebelum memasuki musim hujan. Mengapa? Karena di musim hujan, kandungan air di jahe tersebut akan terlalu tinggi sehingga menyebabkan kualitasnya pun rendah. Bahkan Anda dilarang keras memanen tanaman jahe ini pada musim hujan apa pun alasannya. Pada saat tanaman jahe ini telah mencapai waktu yang tepat untuk dipanen, tanah di sekitarnya biasanya juga akan menjadi begitu kering.

Pertanyaannya adalah bagaimana jika kita benar-benar tak sempat melakukan pemanenan rimpang jahe yang telah mencapai batas waktunya? Apabila tanaman jahe ini tidak sempat dipanen di musim kemarau pada tahun pertama, maka Anda perlu menunggu sampai tiba waktunya musim kemarau di tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan tak dianjurkan karena dapat merusak rimpang jahe dan menurunkan mutunya karena kandungan bahan aktif yang rendah.

Pekerjaan Pasca Panen

Perkiraan hasil panen produksi rimpang segar untuk klon jahe gajah sekitar 15-25 ton/ha. Sedangkan untuk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar 10-15 ton/ha. Semua rimpang jahe segar yang sudah dipanen wajib melalui beberapa tahap penyortiran. Yang pertama adalah membersihkan rimpang ini dari kotoran berupa tanah, gulma, atau sisa tanaman. Selanjutnya rimpang jahe yang terkumpul bisa ditimbang , lalu dimasukkan ke dalam wadah plastik untuk dicuci sampai bersih.

Proses pencucian rimpang jahe harus menggunakan air bersih. Bila perlu, rimpang jahe ini disemprot dengan air bertekanan tinggi agar benar-benar bersih. Lakukan proses pencucian ini hingga sebanyak 2-3 kali sampai air bilasannya terlihat cukup bersih. Pencucian harus dilakukan secepat mungkin agar kandungan senyawa aktif di dalam jahe tidak terlarut air. Rimpang jahe yang sudah dicuci bersih lalu ditiriskan dan diangin-anginkan dahulu. Kemudian pindahkan ke dalam ember.

Tahap berikutnya yaitu perajangan. Proses ini sebenarnya opsional, di mana pasar industri biasanya menghendaki jahe yang telah dirajang. Perajangan jahe bisa dilakukan secara manual menggunakan pisau atau memanfaatkan mesin perajang jahe otomatis. Usahakan jahe dirajang secara melintang, dengan ketebalan sekitar 5-7 mm. Kerjakan dengan baik agar tidak merusak mutu jahe. Selanjutnya semua jahe yang telah dirajang bisa dimasukkan lagi ke ember atau wadah plastik.

Jahe kemudian dikeringkan, baik secara alami atau menggunakan oven. Pengeringan di bawah sinar matahari umumnya berlangsung selama 3-5 hari hingga didapatkan jahe yang mempunyai kadar air di bawah 8%. Jahe yang sedang dikeringkan wajib diberi alas memakai daun pisang, tikar bambu, atau rangka pengering. Pastikan rimpang-rimpang jahe ini dihamparkan secara merata ataupun tidak saling ditumpang-tindihkan. Selama 4 jam sekali, hamparan jahe harus dibalikkan supaya keringnya bisa merata. Sebisa mungkin hindarkan dari air, udara lembap, dan benda berbau tajam.

Sementara itu, proses pengeringan rimpang jahe juga dapat dilaksanakan memakai oven. Metode ini biasanya dikerjakan pada musim hujan, di mana sinar matahari sangat sulit didapatkan. Pengeringan memakai oven sebaiknya dilakukan di kisaran suhu 50-60 oC. Rimpang jahe ditaruh di atas tray oven dengan menghamparkannya serta usahakan tidak saling menumpuk. Lakukan pemantauan kadar air selama proses pengeringan ini berlangsung. Setelah selesai, timbanglah jumlah rimpang jahe yang dihasilkan.

Rimpang jahe yang telah kering dibersihkan dulu dari kotoran atau kerikil yang mungkin menempel. Kemudian Anda dapat menyimpannya di gudang yang kondisinya kering, tidak lembap, dan suhunya stabil tidak lebih dari 30 oC. Gudang ini sebaiknya mempunyai ventilasi udara yang baik serta atapnya dipastikan tidak bocor. Pastikan juga jahe yang disimpan di dalam gudang tersebut terhindar dari kontaminasi bahan-bahan berbahaya. Jagalah kebersihan gudang ini setiap waktu.