Panduan Kerja Menanam Bibit Teh di Lahan Perkebunan dengan Baik

Sebelum proses penanaman bibit teh perlu dilaksanakan penetapan jarak tanam dengan pengajiran terlebih dahulu. Barulah kemudian bisa dilakukan pembuatan lubang tanam sesuai dengan letak ajir. Setelah pekerjaan pembuatan lubang tanam sudah selesai, Anda dapat melakukan penanaman bibit teh. Pada dasarnya yaitu semakin besar jumlah populasi tanaman teh, maka tajuk tanaman teh pun bakal semakin cepat menutup.

Adapun jarak tanam yang disarankan menurut tingkat kemiringan lahannya akan kami sajikan dalam tabel di bawah ini!

Kemiringan LahanJarak Tanam (cm)Jumlah Tanaman (pohon/ha)
0-15%120 x 909.260
15-30%120 x 7511.110
>30%120 x 6013.888
dalam batas tertentu120 x 60 x 6018.500

Pelaksanaan pengajiran dilakukan sebelum bibit teh ditanam supaya jumlah tanaman yang ditanam sesuai dengan jarak tanam yang sudah direncanakan. Ajir yang digunakan di sini memiliki panjang 50 cm dan tebalnya 1 cm. Cara pengajiran pada lahan datar dan lahan landai ialah Anda perlu membuat ajir induk pada kedua sisi lahan dahulu. Seterusnya ajir ini dipasang dengan sistem barisan lurus atau zig-zag sesuai jarak tanam. Sedangkan pengajiran di lahan miring dilakukan dengan sistem kontrol.

Mengingat jarak di antara 2 ajir cukup dekat, maka pembuatan lubang tanam sebaiknya dilakukan di antara kedua ajir yang sudah ditanamkan sebelumnya tersebut. Anda dapat membuat lubang tanam sesuai kondisi bibit tanaman teh. Lubang tanam untuk bibit biji mempunyai ukuran 30 x 30 x 40 cm. Sedangkan lubang tanam untuk bibit setek berukuran 20 x 20 x 40 cm. Setelah itu, lubang tanam ini dibiarkan dahulu selama 7-10 hari agar kondisinya menjadi normal kembali.

Sebaiknya setiap lubang tanam diberi pupuk dasar dahulu berupa 11 gram urea, 5 gram TSP, dan 5 gram KCl. Jikalau pH tanah tinggi, Anda dapat memberikan 10-15 gram belerang murni atau 50-100 gram belerang lumpur untuk masing-masing lubang tanam. Barulah kemudian dilakukan penanaman bibit tanaman teh dengan hati-hati. Pastikan tidak ada perakaran tanaman yang rusak. Setelah itu, Anda bisa meratakan permukaan lubang tanam agar tidak cekung atau cembung.

Selain tanaman teh itu sendiri, Anda juga mesti menanam pohon pelindung. Pohon ini bisa ditanam setahun sebelumnya atau bersamaan dengan penanaman teh. Terdapat 2 jenis tanaman pelindung, yaitu tanaman pelindung sementara dan tanaman pelindung tetap. Tanaman pelindung sementara yang biasa ditanam yaitu Crotalaria sp atau Tephrosia sp. Tanaman ini dipilih karena selain sanggup memberikan perlindungan, juga akarnya dapat mengikat unsur hara nitrogen (N).

Sementara itu, jenis-jenis tanaman pelindung tetap yang dianjurkan untuk ditanam di perkebunan teh antara lain Acacia decurens, Albizia falcata, Albizia sumatrana, Albizia chinensis, Albizia procera, Derris microphylla, Erythrina subumbrans, Erythrina poeppingiana, Gliricidia maculata, Grevillea robusta, Leucaena glauca, Leucaena pulverulenta, dan Media azedarach. Tanaman-tanaman ini kita pilih karena selain dapat melindungi tanaman teh juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Khusus untuk pohon pelindung yang juga bisa menghasilkan nitrogen seperti Tephrosia sp, Crotalaria usaramoensis, dan Crotalaria anaggreoides dapat ditanam selang 2 baris di antara tanaman teh. Jika tinggi tanaman ini sudah mencapai lebih dari 1 meter, maka perlu dipangkas hingga tingginya 50 cm. Tujuannya agar akar tanaman tersebut tidak mengganggu tanaman teh. Biasanya pemangkasan ini dilakukan setiap 4-6 bulan. Sisa pangkasan tersebut kemudian dijadikan mulsa tanaman teh.

Selang 1,5-2 bulan setelah penanaman biasanya tanaman gulma mulai bermunculan. Itu sebabnya, Anda perlu menyianginya sampai habis. Untuk efisiensi kerja, Anda juga dapat memanfaatkan obat herbisida untuk memberantas gulma tersebut. Upaya pengendalian gulma ini mesti dilakukan setiap 1,5-2 bulan supaya pertumbuhan tanaman teh bisa optimal dan tidak terganggu. Pengecualian kalau ada gangguan hama/penyakit, maka penyiangan dilakukan melalui strip weeding.

Untuk menyediakan media yang bertindak sebagai kantung peresapan air yang bermanfaat di musim kering, maka perlu dibuat rorak. Rorak dibuat di setiap 2-3 baris tanaman secara selang-seling sesuai tingkat kemiringan tanah. Ukurannya yaitu 200 x 40 x 60 cm. Guna menjaga fungsinya, rorak ini perlu dikuras sebanyak 3 kali/tahun. Tanah yang menutupinya mesti dikeluarkan supaya berguna kembali. Rorak ini juga bermanfaat untuk mencegah erosi, memperbaiki abrasi tanah, dan menampung bahan organik.

Kemudian upaya penyulaman dilaksanakan mulai 2-4 minggu setelah tanam sampai umur 2 tahun. Tanaman teh yang mati harus lekas diganti agar pertumbuhannya tetap seragam. Di sini Anda mesti menggunakan bibit sulaman yang berkualitas terbaik dari klon yang sama. Adapun perkiraan jumlah tanaman sulaman yaitu 10% di tahun pertama dan 5% di tahun kedua. Dengan penyulaman ini, maka populasi tanaman teh di perkebunan bisa terjaga tetap penuh.