5 Cara Mudah Memperbanyak Tanaman Apel yang Bisa Anda Kerjakan Sendiri

Tanaman apel dapat menjadi komoditas yang sangat menguntungkan mengingat harga jualnya yang tinggi. Kalau dibandingkan dengan buah-buahan lainnya, apel termasuk buah yang premium. Bahkan harga bibit apelnya pun sudah tergolong di atas rata-rata loh. Padahal jika berminat, Anda juga bisa membuat bibit apel sendiri mengingat tanaman ini dapat diperbanyak secara vegetatif dan generatif. Perbanyakan tanaman apel secara generatif dilakukan dengan menanam bijinya.

Sementara itu teknik perbanyakan tanaman apel secara vegetatif bisa dilaksanakan dengan beragam metode seperti stek (cutting), sambungan (grafting), dan penempelan (budding). Apabila beruntung, Anda juga dapat menanam anakan tanaman apel yang biasanya tumbuh di pohon-pohon yang sudah besar. Pilihan metode lain adalah melakukan perundukan agar cabang tanaman apel menumbuhkan akar sehingga berkembang menjadi bibit yang siap ditanam secara mandiri.

Untuk mempermudah Anda dalam melakukan perbanyakan pohon apel secara vegetatif, kami bakal mencoba memberikan panduan teknis kerja yang lengkap dan jelas.

Cutting (Stek Batang)

Menyetek berarti kita menanam bagian batang atau cabang tanaman apel. Kendati batang tersebut belum mempunyai akar, tapi dengan perlakuan tertentu, batang akan tetap tumbuh. Stek batang ini dilakukan dengan menyiapkan cabang tanaman apel sepanjang 15-20 cm dengan diameter seragam dan bentuknya cenderung lurus. Sebaiknya sebelum Anda menanamnya, batang tadi bisa dicelupkan ke dalam larutan Roton F untuk merangsang pertumbuhan akar.

Biasanya batang tanaman apel yang tengah disetek ditanam di dalam polybag. Tapi untuk menekan biaya produksi, Anda bisa menanamnya langsung di lahan yang telah dibuat bedengan. Jarak tanam untuk menyetek batang apel yaitu 30 x 25 cm, di mana setiap bedengan berisi 2 barisan. Perawatan tanaman harus dikerjakan dengan baik supaya tumbuh subur. Bibit tanaman apel asal setek ini siap untuk diokulasi setelah berumur 5 bulan, diameter batang minimal 1 cm, dan perakarannya kuat.

Grafting (Penyambungan)

Grafting (penyambungan) sama halnya seperti teknik okulasi tanaman. Tugas utama di sini yaitu kita bakal menyambung batang atas dan batang bawah pohon apel agar menjadi satu. Batang atas yang disebut entres berupa cabang tanaman atau tepatnya pucuk cabang lateral. Sedangkan untuk batang bawah berupa bibit tanaman berakar, di mana titik yang ingin disambung dipotong pada ketinggian 20 cm dari leher akar. Proses grafting akan menghasilkan bibit yang lebih unggul.

Cara kerjanya yaitu Anda bisa memotong pucuk dan membelah bagian tengah batang bawah dengan panjang 2-5 cm. Kemudian cabang entres dipotong sepanjang 15 cm serta pastikan memiliki minimal 3 mata tunas. Seluruh daun di cabang entres ini wajib dibuang. Setelah itu, pangkal batang atas yang hendak disambung diiris membentuk baji, di mana panjang irisannya ini harus sama dengan panjang belahan batang bawah sehingga keduanya dapat menyatu secara sempurna.

Kini waktunya Anda untuk menyambungkan kedua batang tanaman tersebut. Silakan ambil batang atas, lalu sisipkan ke dalam batang bawah dengan baik sehingga kambium kedua batang ini sanggup bertemu satu sama lainnya. Agar tetap tersambung dengan kuat, Anda bisa mengikatnya memakai tali plastik serapat mungkin. Kerudungi setiap sambungan batang ini dengan kantung plastik. Setelah 2-3 minggu kemudian, kerudung plastik bisa dibuka untuk melihat keberhasilan sambungan.

Budding (Penempelan)

Anda juga bisa memperbanyak tanaman apel menggunakan teknik budding (penempelan). Daripada grafting, metode budding ini agak sedikit lebih mudah ya. Anda dapat memulainya dengan memilih batang bawah yang telah memenuhi syarat budding terlebih dahulu yaitu umurnya minimal 5 bulan, diameter batang sekitar 1 cm, dan lapisan kulit batangnya mudah dikupas dari kayu. Kemudian ambil mata tempel dari cabang/batang sehat yang berasal dari pohon apel varietas unggul.

Cara mengambil mata tunas yang tepat adalah Anda bisa menyayat mata tempel ini beserta lapisan kayunya sepanjang 2,5-5 cm, di mana posisi mata tunas harus berada di bagian tengah. Lantas Anda dapat membuang lapisan kayunya dengan hati-hati agar tidak merusak mata tunas. Berikutnya Anda bisa membuat lidah kulit batang yang terbuka pada batang bawah setinggi 20 cm dari posisi pangkal batang dan ukurannya disesuaikan dengan mata tempel. Lidah ini diungkit dari lapisan kayunya serta dipotong setengahnya saja.

Langkah berikutnya Anda dapat memasukkan mata tempel tersebut ke dalam lidah bawah sehingga mampu menempel dengan kuat. Kemudian ikatlah tempelan ini menggunakan pita plastik putih dan pastikan semua bagian tempelannya terikat. Setelah 2-3 minggu, ikatan tempelan bisa dibuka lantas disemprot/kompres memakai ZPT (Zat Perangsang Tumbuh). Ciri-ciri bahwa penempelan yang Anda lakukan berhasil yaitu mata tempel tetap berwarna hijau segar dan melekat dengan batang.

Setelah itu, kita dapat merangsang pertumbuhan tanaman supaya fokus ke bagian mata tempel yang diokulasikan tadi. Caranya mudah sekali kok. Anda bisa memulainya dengan mengerat batang sekitar 2 cm di atas posisi okulasi secara melintang dan sedikit condong ke atas. Ukuran kedalaman keratan ini yaitu sedalam 2/3 bagian penampang. Dengan metode ini, maka pertumbuhan tanaman pun akan terkonsentrasi pada mata tempel sehingga dapat memacu pertumbuhannya.

Layering (Rundukan)

Pada dasarnya, semua tanaman berkayu bisa diperbanyak dengan metode rundukan asalkan punya yang cukup banyak untuk keperluan dirunduk. Ya ini adalah syarat mutlaknya, di mana cabang yang hendak dirunduk harus berukuran panjang. Mengapa? Karena kita akan menimbun cabang tadi di bawah tanah untuk merangsang tumbuhnya akar. Tak terkecuali pula dengan pohon apel yang juga bisa diperbanyak menggunakan metode rundukan (layering) ini.

Terdapat 2 metode yang bisa dilakukan untuk merunduk tanaman apel dalam rangka menghasilkan bibit yang baru, di antaranya :

  1. Perundukan anakan pohon induk liar : Anakan pohon apel yang mempunyai cabang agak panjang serta masih cukup lentur bisa direbahkan melekat ke tanah. Kemudian cabang ini dijepit memakai kayu atau bambu untuk menahan posisinya, lalu ditimbun memakai tanah. Tentunya upaya penimbunan ini cuma dilakukan di tiap-tiap mata tunas saja. Sedangkan daun-daunnya tetap dibiarkan berada di atas permukaan tanah supaya tumbuh. Setelah 1-2 bulan berlalu, cabang ini sudah mempunyai akar yang rimbun sehingga dapat dipotong.
  2. Perundukan tempelan batang bawah : Proses rundukan ini dilakukan saat tempelan dibuka pada usia 2 minggu. Caranya yaitu potonglah 2/3 bagian penampang batang bawah di posisi sekitar 2 cm di atas titik tempelan. Lalu bagian atas keratan bisa dibenamkan ke dalam tanah dan ditekuk lagi ke atas. Pada titik tekukan ini lantas diberi penjepit dari kayu/bambu untuk menahan posisinya. Setelah rundukan berumur 3-4 bulan dapat dilakukan pemisahan bibit dengan memotong batang ini secara miring pada posisi di bawah keratan/tekukan.

Anakan/Siwilan

Pohon apel yang sudah besar biasanya akan menumbuhkan anakan di sekitarnya. Anakan ini dapat dimanfaatkan sebagai bibit dengan memisahkannya dari tanaman induk terlebih dahulu. Ciri-ciri dari anakan yang layak untuk diambil dan dimanfaatkan sebagai bibit baru antara lain mempunyai tinggi 30 cm, diameter batang 0,5 cm, dan warna kulit batangnya kecokelat-cokelatan. Lakukan pemisahan anakan dari tanaman induk ini dengan hati-hati agar kondisinya tidak rusak.

Anakan tanaman apel bisa diambil dari bagian pangkal batang bawah pohon yang produktif. Caranya adalah Anda harus menggali tanah di sekitar pohon induk dahulu. Lalu anakan tanaman tadi dicabut beserta akarnya secara hati-hati dan tepat agar tidak menimbulkan kerusakan. Setelah Anda berhasil mencabutnya, anakan ini dipangkas secukupnya dan dipotong cabang-cabangnya. Barulah kemudian Ada dapat menanamnya di bedengan yang berukuran lebar 60 cm dan kedalaman parit 40 cm.

Tags: