3 Penyakit Utama Pada Tanaman Kentang & Metode Pengendaliannya

Tanaman kentang sangat potensial untuk dibudidayakan di Indonesia. Apalagi kentang juga digolongkan sebagai salah satu makanan super (superfood). Sehingga ke depannya pasti tingkat permintaan pasar akan umbi kentang ini terus mengalami peningkatan. Sangat beruntung bagi Anda yang memiliki lahan di dataran tinggi. Anda bisa menanami lahan tersebut dengan kentang yang memang akan tumbuh baik di lahan yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.000 m dpl.

Walaupun mempunyai potensi yang sangat tinggi, tetapi membudidayakan tanaman kentang bukanlah pekerjaan yang mudah. Pasalnya tanaman ini membutuhkan perawatan yang tinggi agar dapat tumbuh subur dan menghasilkan umbi-umbi kentang berkualitas unggul. Anda juga mesti waspada terhadap penyakit yang dapat menyerang tanaman. Karena tanaman kentang yang sakit akan mempengaruhi umbi yang dihasilkannya apabila tidak segera ditangani dengan tepat.

penyakit-tanaman-kentang.jpg

Paling tidak terdapat 3 penyakit utama yang menyerang tanaman kentang, di antaranya :

Penyakit Busuk Daun

Penyakit busuk daun merupakan penyakit paling serius yang dapat menyerang tanaman kentang. Ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur air (Phytophthora infestans). Diketahui penyakit ini sering mewabah di daerah-daerah yang menjadi sentra budidaya tanaman kentang. Penyakit busuk daun biasanya mulai melakukan serangan terhadap tanaman yang sudah berusia 5-6 minggu. Di daerah Jawa sendiri, penyakit ini kerap melanda pada awal musing penghujan yakni antara Desember sampai Februari.

Serangan penyakit busuk daun memiliki gejala awal antara lain timbulnya bercak-bercak berwarna abu-abu atau cokelat di permukaan daun. Pada bagian tengah bercak tersebut biasanya agak basah. Kalau dilihat secara fisik, daun tersebut nampak seperti baru saja terbakar. Agar jamur yang sudah terlanjur menyerang daun ini tidak menyebar ke bagian-bagian tanaman kentang yang lain, Anda harus segera memangkas daun tersebut lalu memusnahkannya untuk menghindari infeksi jamur semakin menyebar.

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit tanaman kentang berikutnya yang harus Anda waspadai ialah penyakit layu bakteri. Penyakit ini sendiri disebabkan oleh serangan bakteri Ralstonia solanacearum. Wabah dari penyakit ini dapat menimbulkan dampak yang sangat serius bagi budidaya tanaman kentang di daerah tropis, subtropis, dan beriklim sedang. Umumnya serangan penyakit layu bakteri terjadi saat tanaman sudah berusia lebih dari 6 minggu.

Gejala utama serangan penyakit layu bakteri adalah tanaman kentang tiba-tiba menjadi layu. Hal ini mulai terlihat dari bagian daun kentang yang mengalami layu, kemudian berlanjut pada batang yang menjadi layu dan berubah warna menjadi cokelat. Kalau batang yang telah layu ini ditekan, maka batang tersebut akan mengeluarkan lendir. Pencegahan dapat dilakukan dengan memakai bibit kentang yang sehat dan telah disucihamakan. Melakukan rotasi tanaman juga bisa meminimalisir serangan penyakit ini.

Infeksi Virus

Selain jamur dan bakteri, tanaman kentang juga bisa terserang penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Beberapa virus yang kerap menyerang tanaman kentang antara lain potato virus Y (PVY), potato virus X (PVX), dan potato virus S (PVS). Gejala infeksi dari virus-virus ini di antaranya nekrosis, mosaik, klorosis, belang-belang, pengerutan daun, pengerdilan tanaman, dan penebalan warna hijau di sekitar pertulangan daun.

Karena dapat menimbulkan dampak yang sangat serius terhadap tanaman kentang, Anda harus benar-benar mewaspadai infeksi dari virus-virus tersebut. Sayangnya sampai saat ini belum ada solusi yang jitu untuk mengendalikan infeksi virus pada tanaman kentang. Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan yaitu mencegah virus tersebut semakin menyebar dan menjadi wabah di perkebunan kentang. Virus-virus ini biasanya menyebar melalui sentuhan antar tanaman seta melalui infeksi pada tanah dan hama.