Pengendalian Hama Ulat Pemakan Daun Tanaman Turi

Membudidayakan tanaman turi sebenarnya termasuk mudah dilakukan. Namun Anda tetap harus merawat tanaman ini dengan baik. Sebab tanaman turi pun memiliki potensi diserang oleh hama dan penyakit. Salah satu hama yang perlu diwaspadai adalah ulat pemakan daun yaitu Eurema hecabe. Serangga ini mempunyai alat mulut tipe mengunyah untuk larva, serta tipe menghisap untuk imago. Tubuhnya berwarna kuning dan memiliki sayap yang bertepi hitam.

Serangga E. hecabe memiliki mobilitas yang tinggi. Wilayah sebarannya meliputi Asia Tenggara, India, Jepang, Australia, hingga Zimbabwe. Serangan pada tanaman yang masih muda dapat menyebabkan tanaman menjadi gundu. Sementara itu, serangan pada tanaman muda tak terlalu berdampak pada tanaman turi. Akan tetapi populasi serangga ini bisa mengalami peningkatan sewaktu-waktu apabila kondisi ekosistem sesuai. Kontrol di lapangan merupakan langkah awal untuk mengendalikan hama ini.

pengendalian-hama-ulat-turi.jpg

Gejala awal serangan E. hecabe dapat diketahui dari daun tanaman turi yang lama-kelamaan semakin sedikit sampai hampir habis akibat dimakan oleh serangga ini. Wujud larva yang berwarna kuning kehijauan dengan tubuh berwarna hijau menyebabkannya sulit dikenali. Serangan ulat ini diketahui terjadi mulai dari pucuk daun muda. Serangannya terjadi di sepanjang tahun, baik itu musim penghujan maupun musim kemarau.

Kisaran inang E. hecabe cukup luas. Selain tanaman turi, hama ini juga menyerang sengon, dadap, johar, jengkol, dan petai. Sedangkan di Australia, hama ini juga melakukan serangan terhadap tanaman glossy shower, wilgar, phyllanthus bertangkai pajang, indigo australia, yellow pea bush, glory wattle, silk tree, dan asam liar. Untuk mencegah terjadinya serangan yang berat dari hama ini, kegiatan monitoring perlu dilakukan secara berkala. Sedangkan bila sudah terdapat telur, maka perlu dilaksanakan tindakan pengendalian di serangan awal.

Beberapa upaya pengendalian hama E. hecabe yang dapat dilakukan antara lain :

  • Ekstrak daun pucung atau pakem (Pangium edule)

Ulat E. hecabe disemprot menggunakan ekstrak daun pucung dengan konsentrasi 2.000, 3.000, 5.000, 8.000, dan 10.000 ppm (b/v). Penggunaan ekstrak daun pucung pada konsentrasi 2.000 ppm menghasilkan prosentase kematian ulat sebesar 13%. Prosentase kematian ini meningkat pada konsetrasi 3.000 ppm (30%), 5.000 ppm (53%), 8.000 ppm (80%), dan 10.000 ppm (100%).

  • Ekstrak biji mimba dan serai wangi

Ekstrak biji mimba dalam pelarut etanol dengan konsentrasi 6 dan 8 ml/L air cukup efektif menekan perkembangan hama penggerek polong kacang hijau yaitu Maruca testulalis. Minyak serai wangi yang memiliki kandungan sitronela 35,97% pada konsentrasi 4.000 ppm (0,4%) dapat mengurangi Helicoverpa armigera meletakkan telur 53-66% pada tanaman cabai. Selain itu, perlakuan minyak serai wangi juga bermanfaat mempengaruhi aktivitas ovisidal yakni mengurangi jumlah telur menetas hingga 95% dibandingkan upaya kontrol.