Belajar Cara Bertanam Hidroponik bagi Pemula

Apakah Anda ingin belajar cara bertanam hidroponik? Pada dasarnya, teknik bercocok tanam secara hidroponik dilakukan dengan menanam tumbuh-tumbuhan dengan media pemeliharaan berupa air. Tanpa tanah, tanaman-tanaman tersebut bisa tetap tumbuh dengan baik karena asupan nutrisi yang dibutuhkannya tercukupi. Beberapa tanaman yang memberikan hasil maksimal ketika dipelihara secara hidroponik antara lain paprika, tomat, melon, selada, timun, dan terong.

Sistem pemeliharaan tanaman hidroponik dinilai memiliki kelebihan pada pemanfaatan media yang bisa dipakai berulang-ulang, asupan nutrisi yang diserap tanaman lebih terkendali, serta kondisi lahan lebih steril dan bersih. Metode ini juga memungkinkan tanaman budidaya tidak terganggu oleh gulma dan lebih praktis dalam perawatannya. Tidak heran jika tanaman yang dibudidayakan secara hidroponik bisa tumbuh lebih cepat dan hasilnya melimpah.

Terdapat sembilan ragam teknik bertanam hidroponik di antaranya static solution culture, continuous-flow solution culture, aeroponics, passive sub-irrigation, flood and drain sub-irrigation, run to waste, deep water culture, bubbleponics, serta bioponic. Namun pada kesempatan kali ini, kita hanya akan membahas tentang metode static solution culture karena pengerjaannya paling mudah sehingga cocok sekali diterapkan oleh para pemula.

Pengertian static solution culture ialah budidaya tanaman hidroponik menggunakan air statis, diam, dan tidak mengalir. Kekhasan dari metode ini yaitu akar tanaman akan selalu berada di dalam air yang telah dicampur larutan nutrien. Ada dua jenis teknik static solution culture yaitu teknik apung (rakit apung) serta teknik sumbu (wick system).

  1. Persiapan Wadah Penanaman

Dalam menanam suatu tumbuhan secara hidroponik, Anda bisa membuat wadah dari barang-barang bekas seperti ember, toples, gelas, bak air, dan sebagainya. Wadah yang dipakai tidak boleh berwarna transparan agar air tidak mendapat sinar matahari langsung dan tidak ditumbuhi lumut yang dapat mengganggu tanaman. Jika terpaksa, Anda bisa menutupinya memakai plastik, aluminium foil, cat, atau kain. Sesuaikan ukuran wadah ini dengan ukuran dan jumlah tanaman yang akan dimasukkan ke dalamnya.

  1. Teknik Apung atau Teknik Sumbu?

Dalam teknik apung, pot-pot tanaman dimasukkan ke dalam lubang yang terdapat pada lembaran gabus. Pastikan posisi pot tanaman ini terikat kuat dan tidak mudah jatuh ke dasar air. Setelah itu, lembaran gabus tersebut dimasukkan ke dalam kolam yang telah berisi air. Kemudian letakkan bibit tanaman ke dalam pot tadi serta usahakan bagian akarnya bisa tercelup langsung ke dalam air.

Sedangkan dalam teknik sumbu, setiap pot yang telah berisi bibit tanaman dilengkapi dengan sumbu yang terbuat dari bahan kain pada bagian dasarnya. Sumbu ini selanjutnya akan menghubungkan wadah yang telah berisi cairan nutrisi dengan akar tanaman. Karena mempunyai sifat kepiler, sumbu kain ini lantas mampu mengangkut cairan nutrisi dari wadah naik ke akar tanaman sesuai dengan jumlah yang diserap oleh akar tersebut.

  1. Lengkapi dengan Aerator

Aerator adalah mesin pencipta gelembung udara di dalam air. Anda perlu memasang alat ini supaya komposisi larutan nutrien bisa menyebar secara merata. Opsi lainnya gunakan pompa air aquarium atau pompa bertenaga medium yang kerap digunakan pada pancuran. Apabila media hidroponik tidak dilengkapi dengan aerator, maka akibatnya larutan nutrien pun tidak terserap maksimal dan akar menjadi kekurangan oksigen.

  1. Penggantian Larutan Nutrien

Frekuensi penggantian larutan nutrien dilaksanakan sesuai jadwal dan prosedur yang telah ditentukan. Panambahan larutan nutrien atau air bersih dapat dilakukan setiap kali ketinggian permukaan media tanam berkurang hingga mencapai ketinggian tertentu. Jumlah cairan nutrisi yang ditambahkan dapat disesuaikan terhadap kebutuhan setiap tanaman.

  1. Kendala yang Terjadi

Proses penanaman secara hidroponik juga tidak terlepas dari kendala-kendala yang bisa menghambat pelaksanaannya. Kendala utama pada teknik sumbu adalah volume larutan yang menurun drastis hingga jauh di bawah posisi akar dan sumbu sehingga tidak terjangkau. Untuk mengatasinya, Anda bisa menggunakan keran yang telah dilengkapi dengan katup pelampung bola sehingga ketinggian larutan ini akan otomatis terjaga selalu. Sedangkan pada teknik apung, kendala ini tidak terjadi mengingat tanaman diapungkan memakai lembaran gabus tepat di atas permukaan air sehingga akar dapat menjangkau larutan nutrien secara terus-menerus.