Cara Mengatasi Hama Tungau Pada Kelapa Sawit

Kelapa sawit banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini menjanjikan keuntungan yang begitu besar. Namun di balik manisnya berbisnis kelapa sawit, ada banyak sekali masalah yang dapat menimpa. Contohnya seperti hama tungau yang menyerang perkebunan kelapa sawit. Serangan hama tungau (Aceria guerreronis Keifer) akan mengakibatkan produktivitas tanaman menurun drastis karena buah banyak yang berguguran, ukurannya kerdil, dan tidak normal.

Kasus wabah tungau yang parah pernah terjadi di Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung, Sulawesi Utara pada tahun 2012. Sedangkan kasus yang sama juga pernah terjadi di Pati, Jawa Tengah pada tahun 2013. Bagi kelapa sawit, serangan hama tungau cukup berbahaya. Dampak yang ditimbulkan dari serangan hama ini antara lain buah sawit yang terserang akan gugur, ukuran buahnya menjadi kerdil, serta pertumbuhan buah-buah sawit menjadi tidak normal.

cara-mengatasi-hama-tungau.jpg

Serangan hama tungau menyebar cukup cepat dari satu daerah ke daerah lainnya. Prosesnya sendiri disebarkan oleh angin, serangga, dan burung yang hinggap di buah sawit yang sudah terserang. Upaya pencegahan dan pengendalian wajib dilakukan guna menyelamatkan kelapa sawit dari serangan hama yang satu ini. Dibutuhkan teknik pengendalian hama yang efektif dan efisien untuk menekan perkembangan Aceria guerreronis ini.

Ekobiologi Tungau Aceria guerreronis

Aceria guerreronis mempunyai ciri-ciri antara lain tungau dewasa memiliki bentuk tubuh yang memanjang menyerupai cacing, panjang badan 205-255 µm, dan lebar badan 36-52 µm. Tubuh berwarna putih transparan, mempunyai dua pasang tungkai, dan terdapat beberapa seta yang ukurannya panjang di tubuhnya. Posisi struktur pembuka genitalia letaknya berdekatan di bagian belakang tungkai. Dalam kondisi lingkungan yang mendukung, tungau betina mampu menghasilkan 200 butir telur.

Dari tahap telur, tungau ini selanjutnya akan melewati tahap nimfia sebanyak dua kali, setelah itu berkembang menjadi imago. Tidak dibutuhkan waktu yang lama bagi Aceria guerreronis untuk berkembang dari telur menjadi imago karena cuma sekitar 10 hari. Umumnya imago betina akan meletakkan telur-telurnya di buah sawit yang masih muda. Sehingga nantinya siklus hidup telur ini akan menyesuaikan dengan perkembangan buah kelapa sawit tersebut.

Tungau ini akan membentuk koloni pada bagian tanaman yang telah terserang. Sekilas koloni tersebut tampak menyerupai bercak keperakan yang samar-samar. Diagnosa awal dari serangan hama tungau ini ditandai dari munculnya gejala-gejala kerusakan pada bagian buah kelapa sawit yang terserang. Jika melihat tanda-tanda ini, Anda bisa langsung memeriksa kondisi buah sawit untuk memastikan kebenarannya.

Penyebaran Aceria guerreronis

Penyebaran tungau dapat terjadi melalui dua cara antara lain :

  1. Penyebaran secara alami yaitu tungau dapat bergerak dari tajuk ke tandan bunga, antar tandan bunga, dan antara tajuk. Tungau juga bisa berpindah dari buah yang dikecambahkan ke tunas yang baru muncul, terbawa oleh serangga atau burung, serta persinggungan antara daun.
  2. Penyebaran secara pasif yaitu tungau berpindah tempat karena bantuan tiupan angin dan bagian tanaman yang sudah terinfeksi.

Pengendalian Hama

Usaha pencegahan dan pengendalian tungau pada pertanaman kelapa sawit dapat dilakukan dengan beberapa cara yang meliputi :

  1. Sanitasi tanaman dan perkebunan dengan membersihkan lahan perkebunan, pemantauan pemeliharaan tanaman, pemantauan perkembangan buah, serta pemusnahan buah yang terserang.
  2. Pemberian pupuk yang berimbang untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara sehingga tanaman memiliki toleransi yang tinggi terhadap serangan Aceria guerreronis. Dosis yang dianjurkan yaitu urea 1-3 kg, super fosfat 2 kg, dan kalium 3,5 kg/pohon/tahun.
  3. Pemanfaatan insektisida botani dengan campuran 2% minyak mimba dan bawang putih serta Neem Azal 1% untuk mengurangi populasi hama tungau hingga sebesar 60%.
  4. Pemakaian akarisida atau insektisida yang bersifat sistemik seperti Monocrotophos 36 SL (15 ml + 15 ml air/pohon), Triazophos 40 EC (15 ml + 15 ml air/pohon), dan Carbosulfan 25 EC (15 ml + 15 ml air/pohon) melalui penyemprotan atau infus akar dan injeksi batang setelah aplikasi.
  5. Upaya karantina dengan melarang mengeluarkan buah atau benih kelapa sawit dari lokasi serangan sebelum ada perlakuan pengendalian untuk mencegah penyebaran hama ke daerah lain.
  6. Pemanfaatan predator alami tungau seperti Amblyseius largoensis, Bdella distincta, Neoseiulus mumai, Steneotarsonemus furcatus, dan cendawan entomopatogen Hirsutella sp.