Cara Budidaya Kelapa Sawit dan Kiat-kiatnya

Kelapa sawit menghasilkan minyak nabati yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tidak hanya minyak sayur untuk memasak, minyak kelapa sawit juga menjadi bahan baku dalam pembuatan obat-obatan dan produk kosmetik. Harganya yang relatif stabil membuat budidaya kelapa sawit ini sangat menguntungkan. Inilah alasan utamanya mengapa para petani banyak yang membudidayakan tanaman kelapa emas ini.

Kelapa sawit termasuk dalam famili Arecaceae di genus Elaeis. Di Indonesia, tumbuhan ini dibudidayakan di hampir seluruh pulau, terutama Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Jenis-jenis kelapa sawit yang biasa ditanam di antaranya :

  1. Tenera adalah varietas kelapa sawit hibrida dari hasil perkawinan silang antara varietas Dura (jantan) dan Pisifera (betina). Varietas ini mempunyai tempurung yang tipis dan daging buah yang tebal sehingga paling banyak dibudidayakan.
  2. Dura adalah varietas kelapa sawit yang biasanya ditanam bukan untuk tujuan komersial. Penyebabnya karena buah kelapa sawit ini mengandung tempurung yang tebal berkisar antara 2-8 mm.
  3. Pisifera adalah varietas kelapa sawit yang mempunyai tempurung sangat tipis dengan daging buah yang tebal. Sayangnya kebanyakan bunga kelapa sawit dari varietas ini tidak dapat berkembang menjadi buah.

budidaya-kelapa-sawit.jpg

Syarat Tumbuh

Kelapa sawit merupakan tanaman tropis. Tempat yang terbaik untuk membudidayakannya yaitu lahan yang mempunyai temperatur udara sekitar 22-24 oC (minimal) sampai 30-33 oC (maksimal). Tanaman ini membutuhkan penyinaran dari matahari paling tidak selama 5-6 jam per hari dengan tingkat kelembaban rata-rata 80% agar dapat tumbuh secara optimal. Kelapa sawit juga memerlukan curah hujan antara 2500-4000 mm/tahun atau 100-150 mm/bulan. Dataran rendah di Indonesia sangat cocok ditanami kelapa sawit.

Kondisi Tanah

Pada umumnya, kelapa sawit bisa tumbuh di berbagai kondisi tanah. Bagaimana pun tanah yang paling baik ditanami tumbuhan ini yaitu tanah lembab, tanah aluvial yang dikeringkan dengan baik, serta tanah yang kaya akan bahan organik. Tanaman ini sendiri setidaknya butuh tanah yang padat dengan kedalaman 1 m untuk menopang struktur pohonnya. Sebaliknya, kondisi tanah yang perlu dihindari yaitu tanah yang sangat asin, pH-nya sangat tinggi, tanah yang mengandung pasir, dan tanah yang terendam air.

Penyemaian

Penanaman kelapa sawit umumnya dilakukan dari bijinya. Biji ini diambil dari buah kelapa sawit yang sudah benar-benar matang. Perendaman biji di air yang suhunya mencapai 40 oC selama 75 hari dapat mempercepat masa dormansinya. Sehingga biji tersebut akan lebih cepat berkembang menjadi kecambah. Setelah itu, biji kembali direndam di air yang mengalir selama 4-5 hari. Dengan memberikan perlakuan ini, biji kelapa sawit akan berkembang menjadi kecambah dalam waktu 10-12 hari. Setelah bakal tunas dan akarnya muncul, kecambah sawit sebaiknya segera ditanam di polybag.

Pembibitan

Dalam pembibitan tahap nursery, petani paling banyak menggunakan polybag sebagai tempat penanamannya. Digunakan polybag yang berukuran 35-40 yang kemudian diisi dengan tanah, pasir, dan pupuk kompos. Lalu kecambah kelapa sawit ditanamkan di tengah-tengah polybag dengan kedalaman 2,5 cm. Selama masa pembibitan awal ini, kelapa sawit harus disiram secara rutin serta dibersihkan gulma yang tumbuh di dalamnya. Disarankan untuk memberikan pupuk NPK supaya kecambah tersebut cepat tumbuh besar.

Penanaman

Lahan yang akan menjadi tempat penanaman kelapa sawit perlu dibebaskan dari gulma. Oleh karena itu, upaya persiapan wajib dilakukan. Pemberian pupuk kandang mutlak dilaksanakan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Adapun waktu terbaik menanam bibit kelapa sawit yakni awal musim penghujan sekitar Oktober-Desember. Setelah memasuki musim panas, lahan harus dilengkapi irigasi yang memadai, mulsa untuk menjaga kelembaban tanah, dan pohon naungan untuk menahan hembusan angin.

Bibit kelapa sawit yang tumbuh secara normal memiliki tinggi 1 m setelah dirawat selama 12-15 bulan. Bibit tersebut sudah mempunyai pelepah daun mencapai 12-13 buah. Sehingga bibit ini siap untuk ditanam di lahan. Pola tanam kelapa sawit biasanya membentuk segi tiga dengan jarak tanam 9 x 9 x 9 m. Sehingga populasi tanaman adalah 143-145 pohon/hektar. Proses penanaman ini dilakukan di lubang tanam yang berukuran 60 x 60 x 60 cm. Setelah penanaman bibit kelapa sawit dilakukan, Anda bisa mencampur tanah dengan 400 gram super fosfat tunggal dan 50 gram fosfat. Campuran ini diletakkan di dasar lubang tanam.

Tumpang Sari

Penanaman kelapa sawit dilakukan di lahan yang luas sekali dengan jarak tanam yang sangat renggang. Terdapat area kosong yang luas di antara tanaman-tanaman ini, khususnya saat usia tanaman kurang dari 3 tahun. Kita bisa memanfaatkan lahan kosong ini dengan menerapkan sistem tumpang sari. Pilihlah tanaman yang mampu tumbuh dengan baik tanpa mengganggu pertumbuhan kelapa sawit serta tidak menjadi pesaing baginya dalam memperoleh air, sinar matahari, dan nutrisi. Macam-macam tanaman yang biasa dibudidayakan di sini antara lain sayur-sayuran, tanaman bunga, cabai, pisang, kencur, jahe, kunyit, dan nanas.

Irigasi

Kebutuhan air pada kelapa sawit begitu tinggi. Tingkat pertumbuhan tanaman yang relatif cepat dan produktivitas yang tinggi membuatnya memerlukan air dalam jumlah yang banyak. Rata-rata setiap tanaman membutuhkan air mencapai 200 liter/hari. Angka ini akan mengalami peningkatan di musim kemarau yang panas. Jadi tanaman kelapa sawit memang sudah sepatutnya dibudidayakan di lahan yang mengandung air tanah yang melimpah. Saluran irigasi dibutuhkan untuk pengelolaan air yang lebih baik.

Mulsa

Area perkebunan kelapa sawit yang sangat luas menyebabkan petani tidak bisa memantau kondisi semua tanaman setiap hari. Musuh utama yang wajib diwaspadai yaitu sinar matahari yang menghasilkan panas sehingga dapat membakar tanaman. Kontrol terhadap kelembaban media tanam penting dilakukan untuk mencegah tanaman terbakar akibat panasnya sinar matahari. Di sini Anda bisa memanfaatkan mulsa yang terbuat dari daun-daun kering, pelepah kelapa sawit, bunga jantan, dan tandan yang sudah kosong.

Penyerbukan Bunga

Proses penyerbukan bunga kelapa sawit pada umumnya dibantu oleh serangga dan angin. Penyerbukan oleh angin sering kali mengalami kegagalan. Berbeda dengan penyerbukan oleh serangga seperti Elaeidobius kamerunicus yang dapat memberikan hasil yang lebih bagus. Ada baiknya petani berinvestasi pada kumbang Elaeidobius kamerunicus ini. Kumbang kijang ini harus dilepaskan setelah 2,5 tahun dari penanaman. Namun dalam perkebunan yang memiliki populasi padat, kumbang dapat dilepaskan setelah 3 tahun penanaman.

Pengendalian Gulma

Pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit dapat dilaksanakan secara manual atau menggunakan bahan-bahan kimia. Penggunaan bahan kimia untuk mengendalikan gulma harus dilakukan memakai produk-produk herbisida yang memang sudah direkomendasikan agar tidak memberikan dampak buruk bagi lahan. Untuk pengendalian gulma secara efektif biasanya digunakan Glyphosate dengan dosis 700-750 ml/ha/tahun. Alternatif lainnya bisa menggunakan Paraquat yang dicampur dengan Atrazine, Diuron, dan Monuron. Gunakan herbisida ini hanya sebanyak 2 kali/tahun.

Pembungaan

Tumbuhan kelapa sawit akan mulai menghasilkan bunga setelah berumur 14-18 bulan setelah ditanam di lahan. Kadang-kadang tanaman ini akan menghasilkan bunga jantan dan bunga betina di satu pohon. Bunga pertama ini sebaiknya dibuang karena tidak menguntungkan. Proses menghilangkan bunga jantan dan bunga betina pada tahap awal perkebunan kelapa sawit disebut ablasi. Tujuannya memberikan kesempatan bagi tanaman untuk memaksimalkan pertumbuhan batang, pelepah, dan akar. Setelah bunga ini muncul, hilangkanlah sesegera mungkin. Upaya ini dapat diperpanjang sampai 2-3 tahun tergantung kekuatan dan pertumbuhan tanaman.