4 Hama Tanaman Tin dan Pengendaliannya

Tanaman tin kini sudah semakin banyak dipelihara di Indonesia. Meskipun tanaman ini berasal dari lingkungan kering, panas, dan gersang, tetapi tin ternyata bisa juga ditanam di lingkungan yang lebih lembab. Dengan perawatan yang baik, tanaman tin bisa tumbuh dan menghasilkan buah sebagaimana di habitat alaminya. Hal ini tidak terlepas dari kondisi tanah di Indonesia yang memang sangat subur. Kita patut bersyukur karena dianugerahi kondisi ini.

Anda bisa menanam tin di tanah secara langsung atau memakai wadah penanaman seperti pot dan polybag untuk menghemat penggunaan lahan. Tin pada dasarnya tak terlalu sulit ditanam. Tanaman ini tidak memerlukan perawatan yang begitu rumit. Anda hanya perlu menyirami seperlunya saja serta memberikan pupuk yang tepat secara berkala. Kemudian Anda juga harus memastikan tanaman ini bebas dari serangan hama dan penyakit.

hama-tanaman-tin.jpg

Berikut ini jenis-jenis hama yang biasa menyerang tanaman tin, di antaranya :

Kumbang

Beberapa jenis kumbang kerap menyerang tanaman tin. Ukuran tubuhnya sangat kecil dengan panjang 6 mm dan lebar 3 mm. Serangga ini biasanya hanya memakan daun-daun yang masih muda. Serangannya bersifat masif dan terus-menerus. Kumbang dewasa yang telah kawin akan menghasilkan telur hingga sebanyak 50-100 butir. Telur akan menetas setelah 2 hari kemudian. Larva kemudian akan turut memakan daun tanaman tin bersama kumbang-kumbang dewasa.

Larva dewasa lantas akan menjatuhkan dirinya ke tanah untuk kemudian berubah menjadi kepompong. Diketahui bahwa kumbang akan bergerak aktif saat pagi dan sore hari. Sedangkan pada malam harinya, kumbang-kumbang ini biasanya akan berkumpul di satu titik. Jadi upaya pengendalian sebaiknya dilakukan pada malam hari. Caranya dapat dilakukan dengan menangkap kumbang beserta larva dan telurnya untuk selanjutnya dimusnahkan. Untuk serangan yang sudah parah, pengendaliannya bisa memakai pestisida yang tepat.

Tikus

Tikus senang merusak akar tanaman tin untuk membangun sarang atau mencari makanan. Puncak serangannya biasanya terjadi pada malam hari. Serangan tikus akan mengakibatkan perakaran tanaman tin menjadi rusak hingga pertumbuhannya terganggu dan produktivitas pohon dalam menghasilkan buah menurun. Jika tidak cepat ditangani, serangan tersebut akan terus meningkat. Apalagi tikus dapat berkembang biak secara cepat.

Pengendalian terhadap hama tikus bisa dilaksanakan secara terpadu dan sistematis. Anda bisa melakukan pembersihan lingkungan di area pertanaman. Tutup semua lubang di tanah yang ada serapat mungkin. Ciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi tikus untuk dapat hidup dan berkembang biak. Kemudian Anda juga bisa memasang beberapa perangkap tikus yang diletakkan pada posisi yang berselang-seling.

Nematoda

Nematoda dapat melakukan serangan terhadap akar tanaman tin. Dampaknya adalah pertumbuhan tanaman tersebut menjadi terganggu. Tingkat produktivitas tanaman dalam menghasilkan daun dan buah pun menurun drastis. Sayangnya ukuran nematoda yang sangat kecil membuat kita sulit mengetahui keberadaannya secara langsung. Nematoda dapat dikendalikan memakai nematisida dengan penggunaan yang tepat.

Kutu Putih

Kutu putih biasanya menyerang daun dan cabang tanaman tin. Kutu ini biasanya melakukan serangan secara beramai-ramai dalam gerombolan yang cukup besar. Kutu putih selanjutnya akan menempel di daun dan cabang untuk menghisap cairan di dalamnya. Akibatnya daun dan cabang tersebut akan mengerut karena kehilangan banyak cairan, mengeriting, kemudian berubah warna menjadi kekuning-kuningan. Pada akhirnya, bagian tanaman yang terserang akan gugur.

Pengendalian hama kutu putih dapat dilakukan dengan membersihkan hama tersebut secara manual. Di sini Anda bisa memanfaatkan air sabun. Usapkan air sabun ke permukaan bagian tanaman yang diserang oleh kutu putih secara merata. Kutu putih yang terkena air sabun akan langsung mati. Sedangkan kutu putih lain yang sudah terbang tidak akan berani menempel di batang/daun tadi. Lakukan proses pembersihan ini secara berkala untuk mendapatkan hasil yang maksimal.